Cerpen Tato Lebaran by c'intan



Tato Lebaran
by c'intan

Pada saat itu  hari terasa sangat panas, matahari yang menyengat kulit terasa sampai ke tulang. Terlihat dua orang laki-laki sedang duduk disebuah halte. Jalanan pada siang itu sangatlah ramai, dari pejalan kaki, pengendara sepeda motor, mobil pribadi, serta truk-truk ber lalu lalang di sepanjang jalan. Salah seorang laki-laki yang berpenampilan rapi memandang ke arah penjual es cendol yang berada di samping kiri halte bus itu. Terlihat sangatlah segar apabila dapat menikmati segelas es cendol tersebut. Sedangkan seorang lelaki yang berpakaian santai duduk persis disampingnya, mengamati seorang pengemis yang sedang meminta belas kasihan kepada orang-orang yang lewat di seanjang trotoar menuju halte. Penampilan pengemis yang terlihat kusam, kumuh bahkan terlihat sangat kotor. Rambut yang kusut, baju yang kotor dan bau yang kurang mengenakkan membuat orang yang melewati pengemis tersebut spontan menutup hidung mereka.
“Seharusnya dia tidak berpenampilan seperti itu, mas” cetus seseorang yang mengamati pengemis.
“Memang ada yang kurang? Lupakan ucapanmu ton, lihat dia sangat menggoda bukan?’’ sambil menelan ludah melihat penjual es meracik cendolnya.
“Mas sandi? Apa yang kau maksud?” menoleh ke arah lawan bicaranya. Ternyata laki-laki yang di panggil mas sandi itu merupakan kakak dari tonny yang mengamati pengemis. Mereka kakak beradik yang sedang menunggu bus untuk pergi ke kota Surabaya.
“Bukankah kau sedang membicarakan es cendol tersebut? Lihatlah ton, betapa segarnya melihatnya!” apalagi meneguknya, segar sekali bukan?”
Tonny menggelengkan kepala. “Ini bulan puasa mas, jangan memperhatikan makanan dan minuman. Lebih baik kita bersedekah” sambil berjalan memberikan uang kepada pengemis.
Sesaat setelah pembicaraan tersebut bus yang dinanti telah datang, naiklah kedua laki-laki tersebut ke dalam bus. Tonny tercengang melihat betapa sesaknya bus yang mereka naiki itu. Sementara itu mas sandi juga memperhatikan kanan kiri di sepanjang barisan tempat duduk mengamati apakah ada yang kosong apa tidak. Dia berhasil melihat bangku kosong di belakang. Dia mendatangi bangku itu dan mendudukinya.
 Sementara itu tonny kebingungan akan duduk di bangku mana. Rasa letih ke dua laki-laki itu benar-benar terasa, melihat keadaan jalan yang ramai, macet dan asap kendaraan besar yang membuat sesak napas. Membuat kejengkelan tumbuh pada tonny. Dia merasa kesal karena tidak mendapat tempat duduk. Di sepanjang jalan dia melihat hamparan sawah yang menghiasi kiri dan kanan jalanan pantura arah kota pati menuju kota Surabaya. Terlihat tugu selamat jalan kota demi kota terlewati, sekarang tonny sudah mendapat tempat duduk di kiri mas sandi. Tiba-tiba ditangan mas sandi ada serangga.
“Serangga apa ini? Bentuknya unik, warnanya sangat lucu, belang hitam dan orange”
Seperti kue lapis saja serangga ini gumam mas Sandi. “Lihatlah ini ton, ada serangga lucu.” Percuma saja mas sandi berbicara kepada tonny, tonny berpura-pura tidur. Hingga akhirnya tertidur dengan pulasnya dengan bersandar di jendela bus. Terlihat wajah yang sangat letih dan lelah.
Suasana bus sekarang tampakk sepi, sebagian besar para penumpang mereka memilih untuk tidur dan menikmati alunan music yang di mainkan para pengamen. Lagi-lagi ada seseorang yang meminta-minta, bukan dihalte saja, tetapi di bus juga banyak orang yang meminta-minta. Mereka menyodorkan plastic bekas jajanan yang dijadikan tempat untuk menaruh recehan rupiah hasil belas kasihan dari orang-orang yang merelakan koin recehnya. Tergerak hati mas sandi untuk memberikan selembar uang sisa kembali dari membayar bus.
“Terima kasih mas”. Cetus singkkat dari pengamen cilik itu.
“Sama-sama”. Semoga kamu kelak tidak hidup seperti ini nang, masa kecilmu tidak akan habis untuk mengamen mencari koin-koin receh. Gumam mas sandi di dalam hati. Sementara itu tonny masih memejamkan mata dan tertidur sangat pulas, meskipun panas dan pengap bus yang sangat tidak nyaman. Mas sandi masih memegang serangga yang ditemukan itu, entah apa maksudnya, dia menempelkan serangga  kue lapis itu ke muka tonny. Sepontan tonny menggerakkan tanggannya. “plakk”, ke pipinya. Serambi menggaruk-garuk dan menggerakkan bibirnya , mengbah posisi kepalanya berbalik kea rah yang berlawanan. Mas sandi yang menyaksikan kejadian itu tertawa cukup keras “hahaha… ton,ton”. Kemudian dia bermain handpone, mengutak-ngatik. Mengeklik aplikasi kamera dan memotretnya.
Perjalanan demi perjalan, kota demi kota, kini telah terlewati dan sampailah mereka pada tugu selamat datang “selamat datang di provinsi jawa timur” setelah membaca tulisan itu mata mas sandi pun tiba-tiba terpejam, tidur pulaslah dia menyusul tonny. Di kiri perjalanan kini bukanlan persawahan yang menemani perjalanan mereka, teapi lautan kapal-kapal. Orang awam yang meyakini pada saat kita di perjalanan melihat laut, kita akan merasa mual. Entahlah itu hanya omonga orang-orang yang belum jelas kebenarannya.
“Tuban.. Lamongan.. gresik dll” sahut kondektur. “saya turun di gresik pak!”
“Kiri-kiri”. Sahut-sahutan para penumpang yang akan turun.
Tonny terbangun, dia mengusap pipinya. Terasa gatal dan panas. “ada apa dengan mukaku ini?” gatal sekali. Apa jangan-jangan ini ulah dari mas sandi, dia menaruh apa dimukaku ini.
“Mas sandi banguun!” hey, apa yang kau lakukan mas, bangun?” sambil menggosok pipinya.
Terbangulah mas sandi mendengar suara tonny. “Apa yang kau lakukan, kau membangunkanku!!”
“Memang itu tujuanku mas? Apa yang kau lakukan saat aku tertidur. Mukaku tersa sangat panas”. Cetus tonny dengan nada marahnya.
“Aku hanya menaruh serangga lapis di mukamu” jawab mas sandi sambil memperhatikan muka tonny yang memerah.
Tonny tercengang. “Serangga lapis? Apa yang kau katakan? Ceritakan serangga seperti apa itu”.
“Serangga itu belang-belang hitam dan orange ton. Tapi kenapa mukamu jada seperti itu?”
Tonny menggeleng dan heran atas apa yang telah di lakukan mas sandi. “Mas itu serangga tomcat, sangat panas dan gatal mas”.
“Maafkan aku ton, nanti kita kedokter. Aku pikir serangga itu tidak berbahaya”. Tonny memasang muka marahnya.
Sampailah ke terminal Surabaya, mereka menengok ke kiri kanan melihat apakah mereka sudah dijemput atau belum. Ternyata mereka sudah dijemput oleh ayah atmo dan paman karta. Mereka berlari dan masuk mobil. Sesampai di rumah mereka menceritakan kejadian yang mereka alami. Seluruh keluarga tertawa dan menertawakan cerita yang di alami oleh mahasiswa yang mudik ke kotanya itu.
 Ayah atmo berkata kepada tonny.
“Bukankah tomcat dimukamu itu menjadi kado terindah untukmu ton?”
“Kado apa ayah?” sahut tonny sepontan. “kado dari sandi, tato lebaran”
 Karena bekas cairan yang dihasilkan oleh serangga itu akan terasa membakar kulit dan menimbulkan bekas luka yang lumayan lama untuk hilang. Semua anggota keluarga tertawa kembali mendengar ucapan ayah Atmo. 


Komentar

Postingan Populer